Dukungan Regulasi dan Payung Hukum Komoditi Gambir sebagai Komoditi Unggulan Perkebunan Sumbar

Oleh: Hendra Saputra (Dosen dan Tenaga Ahli DPRD Sumbar)

KITASIAR.com – Sumatera Barat (Sumbar) merupakan daerah penghasil gambir dengan luas areal perkebunan mencapai 26.621 hektare dan produksi 5.959 ton/tahun yang menjadi penghasil utama dari komoditas gambir di Indonesia. Proporsi produk ekspor menurut Direktorat Jendral Perkebunan Kementerian Pertanian Indonesia mencapai volume 18.061 ton dengan nilai 36.633 dollar.

Gambir merupakan komoditi unggulan perkebunan Sumatera Barat yang saat ini masih memerlukan perhatian dan payung hukum sehingga tetap dipertahankan keberlanjutannya sebagai komoditi spesifik lokal Sumatera Barat.

Permasalahan perdagangan gambir sangat kerap dibicarakan oleh berbagai pihak baik dari akademisi, asosiasi, dan pemerintah daerah bagaimana permasalahan sistem perdagangan yang selama ini tidak memberikan kepastian harga bagi petani gambir yang hanya berpatokan dari berat timbangan, hal ini menyebabkan petani gambir terpaksa mencampur produknya dengan bahan lain karena permintaan pasar dan mendapatkan timbangan yang lebih berat.

Bacaan Lainnya

Petani gambir khususnya tukang kampo memiliki kemampuan dalam menghasilkan gambir murni atau disebut dengan GGKM (Getah Gambir Kering Murni) akan tetapi permintaan pasar terhadap produk GGKM tidak begitu banyak yang menyebabkan petani gambir masih memproduksi produk gambir sesuai dengan permintaan pasar. Hal ini sesuai dengan teori market for lemons yang diteliti oleh ekonom asal Amerika Serikat bernama George Akerlof yang mengatakan kualitas barang yang diperdagangkan di pasar dapat menurun dengan adanya asimetri informasi antara pembeli dan penjual. Yang mana petani gambir lebih tau kualitas produknya dari pada pembeli. Kepastian kualitas perlu dijamin dengan adanya badan penyangga seperti resi gudang atau lembaga penjamin untuk menghasilkan produk gambir yang murni dan didukung dengan analisa laboratorium terkait mutu gambir yang berpatokan pada kadar katechin dan tanin yang terkandung dalam produk gambir.

Pemerintah daerah perlu mengambil langkah cepat untuk menerbitkan payung hukum terkait komoditi unggulan perkebunan terutama komoditi gambir untuk menjaga keberlanjutan usaha gambir yang menjadi penyumbang devisa negara sebagai komoditi ekspor. Perlu adanya mekanisme bisnis yang transparan antara eksportir dengan petani sehingga tidak lagi ada mutu gambir yang rendah atau gambir yang dicampur diperjual belikan. Terdapat 10 negara sebagai pengguna produk gambir yaitu India, Pakistan, Bangladesh, China, Japan, Amerika Serikat, Singapore, Myanmar, Yemen dan Malaysia. Maka dari itu untuk menjaga nama baik Sumatera Barat sebagai produsen dan juga sentra produksi gambir perlu adanya edukasi dan pengembangan sistem traceability (Ketertelusuran) yang menjadi acuan konsumen membeli produk gambir dari Sumatera Barat.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *