Penyuluh Pertanian di Kota Solok Dilatih Buat Biosaka

KITASIAR.com – Atasi permasalahan kesuburan lahan, sejumlah penyuluh pertanian di Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Kecamatan Tanjung Harapan, Kota Solok dilatih untuk pembuatan Biosaka, tujuannya agar kedepannya pengetahuan tersebut bisa disampaikan ke masyarakat.

Belakangan ini Biosaka sedang menjadi viral di kalangan petani maupun penghobi tanaman. Biosaka sendiri bukan pupuk organik maupun pestisida nabati. Mengutip pernyataan Menteri Pertanian pada kunjungan ke Kabupaten Lamongan baru-baru ini, ”Biosaka merupakan booster pupuk yang dapat menyuburkan tanaman.”

Penyuluh pertanian baik ASN maupun swadaya di BPP Kecamatan Tanjung Harapan juga tidak mau ketinggalan dengan teknologi sederhana ini, terlihat peserta antusias melakukan praktek pembuatan Biosaka dalam rangka training penyuluh di BPP Kecamatan Tanjung Harapan.

Sebagai narasumber yaitu Pengamat Organisme Pengganggu Tanaman (POPT) Kecamatan Tanjung Harapan, Afriati. Acara training penyuluh ini ikut dihadiri oleh Kepala Bidang Penyuluhan Joni Harnedi.

Bacaan Lainnya

“Harapan saya para penyuluh dapat mengajarkan pembuatan Biosaka ini pada kelompok tani yang ada di wilayah binaannya,” jelas Edi sapaan Joni Harnedi, Jumat (3/3/2023).

Bahan-bahan dan alat untuk pembuatan Biosaka ini sangat mudah dan murah untuk dicari. Seluruh peserta berusaha mencari bahan-bahan di sekitar BPP Kecamatan Tanjung Harapan. Bahan ini berasal dari minimal 5 jenis rerumputan dan daun-daun yang tidak terserang hama dan penyakit.

“Kunci dari pembuatan Biosaka ini yaitu pemilihan bahan yang benar-benar sehat, tidak terserang hama dan cara peremasan yang sesuai teknis,” ujar Afriati yang berkantor di samping RSUD Kota Solok ini.

Seluruh peserta langsung mempraktekan cara pembuatan Biosaka dari rerumputan yang telah dicari. Sebelum dimulai peremasan bahan-bahan, peserta melakukan penenangan diri dan berdo’a. Karena pada dasarnya pembuatan Biosaka ini merupakan pendekatan diri pada alam dan sang pencipta. Peremasan bahan-bahan ini dilakukan selama 20 menit dan tidak boleh berhenti. Ciri larutan Biosaka yang berhasil yaitu larutannya homogen dan memiliki pH 7 dan TDS >200.

Hasil dari larutan biosaka yang telah dibuat oleh masing-masing peserta, disimpan di BPP dan nantinya akan diaplikasikan ke lahan BPP maupun lahan petani yang membutuhkan.

“Dengan semakin meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap bahaya pemakaian bahan–bahan kimia dalam kandungan makanan termasuk produk pertanian, maka saat ini mulai bermunculan inovasi-inovasi baru untuk mengurangi pemakaian pupuk kimia, salah satunya kita sedang menggarap biosaka, sehingga, disamping tetap menjaga kualitas mau tidak mau jumlah produksi dan jangka waktu panen menjadi prioritas bagi para petani” ujar Kepala Dinas Pertanian Kota Solok, Zulkifli. (lisa)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *