KITASIAR.com – Universitas Ekasakti (Unes) Padang bersama Ikatan Nasional Konsultan Indonesia (INKINDO) Sumatera Barat dan Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) Sumatera Barat mendorong pemanfaatan Building Information Modelling (BIM) dalam perencanaan dan pengelolaan infrastruktur yang tangguh terhadap bencana.
Upaya tersebut dibahas dalam kegiatan Focus Group Discussion (FGD) hasil penelitian bertajuk Reka Model Building Information Modelling (BIM) dalam Perencanaan dan Pengelolaan Infrastruktur Tangguh Bencana di Kota Padang yang digelar di kantor INKINDO Sumatera Barat, Senin (14/9/2026).
FGD tersebut mempertemukan peneliti, konsultan, arsitek, serta pelaku industri konstruksi untuk membahas penerapan BIM dalam proses perencanaan, pembangunan, hingga pengelolaan infrastruktur dengan mempertimbangkan risiko bencana.
Penelitian tersebut dipimpin Dr. Eng. Zelmi Sriyolja, M.T., dengan anggota Merry Thressia, S.Si., M.Si., Rozza Linda, S.T., M.T., dan Koko Vernando, S.H. Penelitian ini didanai melalui skema BIMA di Universitas Ekasakti Padang.
Zelmi mengatakan penelitian tersebut berfokus pada pengembangan reka model BIM yang tidak hanya menampilkan bentuk tiga dimensi bangunan atau infrastruktur, tetapi juga mengintegrasikan informasi teknis, spasial, serta data terkait risiko bencana.
BIM Tidak Sekadar Model Tiga Dimensi
Dalam FGD tersebut, BIM dibahas bukan hanya sebagai perangkat untuk menghasilkan model tiga dimensi, tetapi sebagai metodologi digital yang memungkinkan berbagi data dan informasi dalam suatu proyek konstruksi dikelola dan dikoordinasikan melalui sebuah model informasi.
Keterlibatan INKINDO Sumatera Barat dalam kegiatan tersebut dinilai penting karena konsultan memiliki peran dalam proses pembangunan, khususnya pada tahap perencanaan. Sementara itu, keterlibatan IAI Sumatera Barat memberikan perspektif profesi arsitektur dalam pemanfaatan BIM untuk proses perancangan bangunan dan lingkungan binaan.
Penelitian tersebut dilatarbelakangi kondisi Kota Padang yang memiliki risiko terhadap sejumlah bencana, di antaranya gempa bumi, tsunami, banjir, dan potensi likuifaksi.
Dalam konteks tersebut, pengembangan model BIM diarahkan agar informasi mengenai kondisi teknis dan risiko bencana dapat menjadi bagian dari proses perencanaan dan pengelolaan infrastruktur.
FGD juga menjadi ruang bagi peneliti untuk memperoleh masukan dari konsultan dan arsitek yang terlibat langsung dalam proses perencanaan maupun pelaksanaan proyek konstruksi. Masukan tersebut diharapkan dapat digunakan untuk menyempurnakan model BIM yang sedang dikembangkan agar sesuai dengan kebutuhan pengguna di lapangan.
Materi penelitian yang dipaparkan dalam kegiatan tersebut menunjukkan bahwa BIM dapat dimanfaatkan untuk mengintegrasikan sejumlah informasi dalam proses konstruksi, termasuk data survei, geoteknik, dan struktur sipil.
Selain itu, BIM dapat mendukung koordinasi desain, penyusunan kuantitas pekerjaan, visualisasi jadwal, serta identifikasi potensi benturan desain sebelum pekerjaan konstruksi dilaksanakan.
Kolaborasi antara UNES, INKINDO Sumatera Barat, dan IAI Sumatera Barat melalui FGD tersebut diharapkan dapat memperkuat pemanfaatan teknologi digital dalam sektor konstruksi, khususnya untuk mendukung perencanaan dan pengelolaan infrastruktur yang lebih adaptif terhadap risiko bencana. (*)








