Dea Angelia Kamil Raih Gelar Doktor di UGM Usia 26 Tahun 11 Bulan, Lulusan Termuda Program Doktor Ilmu Komputer

WhatsApp Image 2026 01 22 at 14.04.12 e1769073583577 Dea Angelia Kamil Raih Gelar Doktor di UGM Usia 26 Tahun 11 Bulan, Lulusan Termuda Program Doktor Ilmu Komputer
Dok. Dea Angelia Kamil

KITASIAR.com – Universitas Gadjah Mada (UGM) baru saja mewisuda 1.061 lulusan pascasarjana, termasuk 825 lulusan magister, 118 spesialis, 14 subspesialis, dan 104 doktor.

Salah satu sorotan utama adalah Dea Angelia Kamil, lulusan Program Studi Doktor Ilmu Komputer, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, yang resmi menyandang gelar doktor di usia 26 tahun 11 bulan 17 hari, jauh lebih muda dibanding rata-rata lulusan program doktor yang mencapai 40 tahun 5 bulan 15 hari.

Dea menceritakan pencapaiannya yang luar biasa ini berkat persiapan matang dan dukungan beasiswa.

Ia mengikuti program akselerasi sejak SMA, dan kemudian mendapat beasiswa Pendidikan Magister menuju Doktor untuk Sarjana Unggul (PMDSU). Dengan program ini, Dea berhasil menyelesaikan S2 dan S3 hanya dalam kurun waktu sekitar empat tahun.

Bacaan Lainnya

Berbekal ketertarikan terhadap komputasi sejak S1, Dea memutuskan berpindah dari jurusan Matematika ke Ilmu Komputer untuk mendalami bidang Machine Learning dan Artificial Intelligence (AI).

Dea mengisahkan, salah satu pengalaman paling berkesan dalam masa studinya mengikuti Program Peningkatan Kualitas Publikasi Internasional (PKPI) bagi mahasiswa PMDSU. Ketika menempuh S3, ia berkesempatan untuk melakukan penelitian di Korea Selatan.

“Pengalaman dalam mengikuti PKPI bagi saya sangat mengesankan. Karena waktu itu, saya melakukan penelitian di University of Ulsan dengan topik Intelligent transportation system khususnya di vehicle speed estimation. Jadi saya membuat sistem yang akan berjalan secara otomatis sehingga sangat meminimalkan adanya intervensi secara manual,” paparnya.

Bagi mahasiswi asal Lamongan ini, menempuh program doktor bukan hanya tentang akademik, tetapi juga ujian ketangguhan. Ritme kerja yang padat dan cuaca ekstrem di Korea Selatan menjadi tantangan utama. Ia menjalani etos kerja disiplin dari Senin hingga Sabtu dengan seminar, bimbingan profesor, dan penelitian intensif.

Keberhasilan Dea juga didukung lingkungan yang suportif, termasuk sang suami yang lulus bersamaan, serta rekan-rekan di laboratorium Elektronika dan Instrumentasi (Elins) di bawah promotor Prof. Agus Harjoko. Dea menekankan pentingnya komunitas belajar yang positif dan rutin melaksanakan diskusi mingguan untuk mendukung penelitian.

Menutup kisahnya, Dea memberikan pesan inspiratif bagi calon doktor. Ia mengingatkan bahwa menempuh S3 memerlukan kesiapan mental, disiplin, dan kesabaran, serta tantangan panjang dalam publikasi dan riset.

“Kejarlah mimpimu, tapi perlu dipahami bahwa perjalanan S3 itu memiliki tantangan tersendiri, seperti tuntutan publikasi dan proses riset yang panjang. Ada pepatah yang mengatakan bahwa ‘PhD is not for everyone’, tapi jika telah menemukan jalan di sana, setiap prosesnya akan terasa sangat berharga,” pungkasnya.

(*/ugm)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *